daftar isi

Read more: Cara Membuat Daftar Isi Pada Blog http://ojelhtc.blogspot.com/2011/12/cara-membuat-daftar-isi-blog.html#ixzz1glK7t2yB Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike

alexa

cara membuat risen post

Read more: Cara Membuat Recent Post Bergerak Ke Bawah http://ojelhtc.blogspot.com/2011/11/cara-membuat-recent-post-bergerak-ke.html#ixzz1gl27o5TN Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike

risen post

Senin, 17 Oktober 2011

dumber daya tanah dan pegunungan



Mari… selamatkan  AIR DAN  TANAH kita,
UNTUK SEBUAH  ARTI KELANGGENGAN HIDUP
Air.
Jika kita ditanya, darimana datangnya air, pasti bermacam-macam jawabannya.  Dan boleh jadi, jawaban itu semua benar.  Mengapa demikian, karena semua  yang ada di alam raya ini disinyalir mengandung air.  Mungkin ada beberapa yang tidak mengandung air, tapi sangat sedikit bendanya.   Kalau kita tanya orang kampung di pegunungan, maka mereka akan mengatakan sumber air adalah mata air atau pancuran di celah-celah batu gunung.  Kalau ditanya rakyat pedesaan dataran rendah, maka mereka akan menjawab bahwa sumber air adalah dari sumur atau air tanah.  Kalau menurut air minum kemasan, berasal dari mata air pegunungan.  Kalau ditanya Pawang Hujan, air berasal dari awan. 
Lingkar Perjalanan Air.
Siklus perjalanan air adalah ketika titik embun yang berada pada langit mencapai titik jenuh, turun menjadi hujan.  Hujan jatuh dipermukaan bumi, (menurut lagu, jatuh di genteng, pohon dan ranting….basah semua), atau dihutan-hutan, atau di rawa-rawa…(hlah dimana sajalah pokoknya).  Selanjutnya sebahagian meresap kedalam tanah dengan proses yang disebut dengan istilah infiltrasi dan ketika tanah sudah mulai jenuh, air menggenang dipermukaan tanah dan mencari tempat yang lebih rendah. Nah, ketika mereka bergerak mencari daerah yang lebih rendah, terjadilah aliran air dipermukaan tanah yang disebut dengan istilah surface run off . Jika air hujan jatuh pada tanah yang miring, maka tetsan air ini tidak akan sempat menelusup kedalam rongga tanah,  dan langsung terpeleset menjadi aliran permukaan. Air yang mengalir dipermukaan tanah tersebut akan bertambah besar jumlahnya setelah bertemu dengan saudara-saudaranya yang lain, ngumpul menuju lembah, nyebur kedalam sungai. Jika jumlah air yang mengalir dipermukaan jauh lebih besar dibandingkan dengan yang meresap kedalam tanah, inilah yang akan menyebabkan banjir atau luapan aliran permukaan.
Lha, air yang ada didalam sungai itu sendiri, sebenarnya juga berasal dari air hujan yang meresap kedalam tanah, seterusnya menembus lapisan yang mampu menyimpan air yang pada umumnya merupakan lapisan pasir (mereka sebut namanya lapisan aquifer) dan pada tempat tertentu menumpahkan airnya kembali kepermukaan yang kita namakan sumber ataupun mata air. Yang satu ini, hujan tidak hujan, airnya terus mengalir kedalam sungai. Sungai dengan segala sifat-sifatnya, mengalirkan air jauuuuuuuuuuuuh sampai ke laut.  Air laut (biasanya asin) ketika mendapat energi panas matahari mengalami penguapan.  Proses penguapan ini disebut evaporasi. Air laut yang menguap ditiup angin menuju darat, mendaki lereng sampai ke puncak gunung, mengumpul jadi satu, berubah menjadi embun.  Maka turunlah hujan.  Kalau umpamanya uap air yang naik ke lapisan atmosfeer masih berada diatas lautan, kemudian mencapai titik jenuh, jatuh kembali ke laut sebagai hujan, dinyatakan siklus pendek.
Neraca Air  (Water Balance).
Menurut seorang ahli hidrologi yang dikenal dengan nama Thornwaite, untuk menjaga kelanggengan kehidupan, harus ada keseimbangan air didalam siklus perjalanannya mulai dari titik hujan di dalam kawasan tangkapan hujan sampai kepada  lepasnya air ke laut pada muara sungai. Seorang pakar lain  bernama Pennman merumuskan keseimbangan neraca air yang ideal adalah ketika hujan jatuh ke bumi, sepertiganya langsung mengalir sebagai aliran permukaan seterusnya menjadi aliran sungai, sedangkan dua pertiganya meresap kedalam tanah.  Yang dua pertiga tersebut sepertiganya dilepas kedalam sungai melalui mata air (spring), melalui rembesan (seepage) dan perkolasi kedalam tubuh sungai untuk selanjutnya menjadi aliran sungai dalam jangka waktu sebulan. Demikian timpa menimpa setiap kali turun hujan sehingga terbagi air menjadi tiga bagian yakni sepertiga langsung mengalir dipermukaan, sepertiga mengalir melalui proses air tanah dan sepertiganya masih tertinggal didalam tanah atau disebut juga timbunan air tanah (ground water storage).  Memang besarnya kapasitas penyerapan atas air hujan bergantung sifat tanah baik kondisi penutupan lahan, kemiringan lereng, dan tingkat kekasaran tekstur tanah.  Demikian juga dengan kemampuan lapisan batuan menyimpan air bergantung tebalnya dan jenis aquifer sebagai media penyimpanannya.
Pengawetan Tanah (Soil Conservation)
Ketika hujan jatuh ke permukaan tanah, maka dia akan memberikan energi kepada tanah sehingga tanah serasa terhempas oleh butiran air.
Selanjutnya pergerakan air juga akan mengikis dan mengangkut tanah berbondong-bondong (emangnya pengungsi….) kedalam sungai. Proses pengikisan ini mereka sebut istilahnya erosi. (Siapa tahu nanti di koran-koran ada istilah erosi, maka pengiksan tanah adalah salah satu pengertiannya, disamping pengertiam lain).  Akibat banyaknya butiran tanah yang dimasukkan kedalam sungai, maka air sungai menjadi keruh. Para ahli menghitung tingkat kadar tanah didalam air sungai dengan istilahsuspended load atau muatan suspensi.  Tapi aku lebih suka menggunakan kata-kata kadar lumpur saja.   Sungai-sungai yang keruh mencirikan penggunaan tanah pada daerah aliran sungainya tidak dilakukan dengan baik. Untuk menjaga agar lapisan tanah tidak menjadi bulan-bulanan air hujan, perlu dilakukan penjagaan, terutama pada daerah-daerah yang berlereng terjal.  Cara-caranya menurut orang pintar (bukan dukun lho….) adalah :
  1. Penggunaan tanah disesuaikan dengan sifat fisik dari  tanah tersebut terutama kemiringan lereng dan tingkat kekasaran butir tanah.  Untuk tanah yang sangat rentan terhadap erosi, sebaiknya dihutankan saja. Karena telah terbukti kawasan hutan tidak mengalami erosi.
  2. Membuat Terasering atau Sengkedan.
Akibat keterbatasan lahan yang tersedia bagi usaha tani, maka para petani terpaksa juga menggarap tanah berlereng.  Nah untuk itu, agar tanah terhindar dari erosi, ada baiknya dilakukan pengelolaan dengan sengkedan atau teras-teras. Kalau kepingin tahu cara membuat sengkedan yang baik, boleh nyontek cara saya. (Aku juga nyontek dari Pak I Made Sandy (Alm).
Terkait dengan penyesuaian penggunaan dimaksud, dapat digolongkan sebagai berikut:
  1. Wilayah yang penggunaan tanahnya sudah baik, dan tingkat kerentanan terhadap erosi memang rendah. Terutama areal  perkampungan dan persawahan.
  2. Wilayah yang penggunaan tanahnya memerlukan pembuatan sengkedan. Biasanya tanah pertanian yang sudah settle, tapi berlereng masih membutuhkan perbaikan fisik, untuk menjaga  agar lapisan tanah terutama horizon A tanah tidak terkikis. Pada umumnya pertanian yang sifatnya demikian adalah kebun campuran, dengan tingkat kemiringan tanah 20 sampai 40 %
  3. Wilayah yang sebaiknya ditanami dengan tanaman keras.   Secara alamiah, daerah pada ketinggian diatas 500 dpal, merupakan daerah pertanian tanaman keras seperti kopi, cengkeh, durian dan akhir-akhir ini juga kelapa sawit.  Jika daerah ini diolah dengan tanaman muda, maka akan sangat rentan terhadap erosi tanah.
  4. Wilayah yang harus dibuat sengkedan dan harus ditanami tanaman keras. Daerah berlereng, tekstur tanah kasar dan curah hujan tinggi, seyogyanya diolah dengan pola terasering dan tanaman yang akarnya mampu menahan gerakan tanah.


1 komentar:

ardi garda manungga mengatakan...

sungguh menakjubkan keindahan alam semesta

Poskan Komentar



GuestBook

 

sumber daya alam Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha